UNISBA UBS, IT TELKOM CUP 2013.

Image

ITT CUP 2013 – National Softball Tournament University, merupakan pertandingan softball yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Riverside,  di Lapangan Softball Lodaya, Bandung. Tournament berjargon “Be A Star In This War” ini diikuti oleh universitas-universitas diantaranya IT Telkom,  UNHALU, UNISBA, UPI, UII, UNPAR, UNPAD, ITB dan UTP Surakarta yang diadakan selama satu pekan mulai dari 21 April 2013 hingga 28 April 2013.

Di sini dibagi 2 pool yaitu pool A dan pool B. UNISBA masuk kedalam pool B bersama dengan UNPAD, ITB, IPB dan UNHALU. Dari awal  pertandingan dimulai sudah berlangsung sengit, karena materi pemain dari setiap universitas terbilang cukup rata. semakin hari animo pertandingan semakin besar dan membuat para penonton merasakan atmosphere yang cukup panas.

Dalam page system UNISBA melawan team dari pool A yaitu UPI dan UII. berkat kerjasama sebuah team, UNISBA berhasil memenangkan pertandingan, sehingga UNISBA melaju ke Grand Final untuk bertemu UNHALU. Sebelumnya UNISBA sempat melawan UNHALU di pool system tetapi UNISBA tidak berhasil mengalahkan UNHALU dalam pertandingan saat itu.

Tiba waktunya UNISBA melawan UNHALU di Grand Final, UNHALU unggul dalam pertandingan ini, setiap inningnya UNISBA dan UNHALU saling berkejar poin. Pertandinganpun semakin seru dan menegangkan. Tetapi  sayangnya UNISBA harus menerima kekalahan 3 poin dari UNHALU. Namun ini menjadi sejarah bagi team UNISBA hingga mencapai babak final, karena di acara It Telkom Cup tahun sebelumnya UNISBA tidak berhasil menerobos masuk hingga babak final.

UNHALU menjadi Juara 1 IT TELKOM CUP 2013 dan UNISBA menjadi Peringkat 2 IT TELKOM CUP 2013, piala bergilir masih dipegang oleh UNHALU karena ditahun sebelumnya UNHALU juga menjadi juara pertama IT TELKOM CUP.

Bertempat di lapangan Lodaya, ITT Cup 2013 dimulai sejak tanggal 18 April 2013 dan berakhir pada tanggal 29 April 2013 sebagai hari pelaksanaan Grand Final Tournament sekaligus sebagai acara penutupan ITT Cup.

http://masjur.org.ittelkom.ac.id/itt-cup-2013

Elsa Mariska – 10080009096.

Jejak Petualang; Kenali Dunia Jurnalistik Lewat Dokumenter Televisi

Suasana Studium Generale Prodi Ilmu Jurnalistik Unisba Jurnalisme Kreatif Bersama Jejak Petualang TRANS 7 “How to Make Television Documentary” pada Rabu (15/3).

Suasana Studium Generale Prodi Ilmu Jurnalistik Unisba Jurnalisme Kreatif Bersama Jejak Petualang TRANS 7, Rabu (15/5).

Bandung – Kehadiran Jejak Petualang TRANS 7 di Unisba menyedot perhatian mahasiswa dari berbagai kampus. Tim Jejak Petualang menjadi pembicara dalam Studium Generale Prodi Ilmu Jurnalistik yang diadakan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik Unisba (15/5). Sajian dokumenter televisi ala Jejak Petualang bertujuan membuka jalan bagi mahasiswa yang ingin memasuki dunia jurnalistik dari sudut pandang yang berbeda.

Dokumenter televisi yang berbeda disajikan oleh Jejak Petualang, khususnya dalam membuat dokumenter televisi mengenai lingkungan. Antusiasme mahasiswa semakin bertambah ketika Tim Jejak Petualang menayangkan bagaimana proses dokumenter televisi dibuat. “Acaranya menarik, kita jadi tau kalau dokumenter televisi itu menyenangkan dan bisa keliling dunia” Ujar Nita, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi 2012.

Andriyanto Tuwit, salah satu pembicara Jejak Petualang TRANS 7 mengatakan bahwa acara ini sangat positif, karena adanya sharing antara mahasiswa dengan rekan-rekan yang sudah bekerja di media. Selain itu, menambah wawasan bahwa bidang jurnalistik sangat luas dan didalamnya juga termasuk dokumenter televisi.

Vika Fitriyana

   “Saya merasa iri, kalau tau dunia jurnalis seperti ini dari dulu saya ambil jurnalistik. Cepet lulus dari Jurnalistik lalu fresh graduate dan kerja di tv terus buat dokumenter televisi supaya bisa keliling Indonesia” Pesan Vika Vitriyana, host dari Jejak Petualang Trans 7.

Acara tersebut semakin mengundang antusiasme mahasiswa ketika diadakan open casting untuk host Jejak Petualang. Sebanyak sebelas mahasiswa terpilih berkesempatan untuk mencoba menjadi host Jejak Petualang TRANS 7. Acara tersebut ditutup dengan penampilan dari Apel Manis.

(Rina Karina/10080011266)

Kampung Naga, Kampung budaya dari Kabupaten Tasikmalaya.

DSC_8206

Salah satu kediaman warga Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya.

TASIKMALAYA – Keanekaragamaan budaya di tanah air Indonesia ini sangat beragam, salah satunya kebudayaan Kampung Naga, yang berada di Desa Nelgasari, kecamatan Selawu, kabupaten Tasikmalaya. Masyarakat Kampung Naga masih mempertahankan tradisinya, dengan tidak menggunakan listrik, mereka menggunakan patromak dan accu sebagai alat bantu pencahayaan. Kebanyakan warga Kampung Naga melakukan aktifitas seperti bertani, bercocok tanam, dan berternak kambing pada pagi hari hingga menjelang sore hari, hal itu merupakan sumber utama mata pencahariaan mereka.

DSC_8160

Kegiatan warga Kampung Naga.

Saat sore hari, warga Kampung Naga banyak menghabiskan waktu dengan bercengkrama di pekarangan rumahnya masing-masing, suara-suara anak kecil kegirangan yang bermain bola ikut meramaikan suasana sore. Warga Kampung Naga lekas melakukan ibadah sholat magrib, saat adzan magrib mulai berkumandang dan suara bedug terdengar , karena kampung tersebut merupakan kampung yang kental akan agama islamnya.

Warga Kampung Naga mengaku bahwa mereka adalah pencetus dan pengerajin alat musik karinding yang pertama, yang banyak dijual di kota Bandung dan kota-kota lainnya, mereka menganggap karinding yang dihasilkannya memiliki kualitas tinggi, tirai berbahan bambu pun mereka hasilkan disana.

DSC_8199

Pak Iin selaku kuncen dan staff pengurus Kampung Naga.

Pak Iin salah satu kuncen Kampung Naga, menuturkan bahwa kepercayaan masyarakat Kampung Naga dalam menjalankan adat istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran leluhur Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati leluhur, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

Irwan Prasetya – 10080009054

Museum Prabu Geusan Ulun Ramai Pengunjung

Halaman Museum Prabu Geusan Ulun diramaikan oleh para pengunjung sekaligus Pameran Pendidikan 2013 pada Sabtu, (11/5).

Halaman Museum Prabu Geusan Ulun diramaikan oleh para pengunjung sekaligus Pameran Pendidikan 2013 pada Sabtu, (11/5).

Sumedang – Pasca penurunan jumlah  pengunjung wisata Museum Prabu Geusan Ulun tahun lalu, kini telah mengalami peningkatan. Kenaikan pengunjung tahun ini tidak luput dari upaya- upaya yang dilakukan pihak yayasan untuk terus mempublikasikan museum ini kepada khalayak dan dunia luar. Hal itu diamini oleh Muhammad Ahmad Wiriatmadja selaku Kepala Museum Prabu Geusan Ulun. “Bila mengalami penurunan, kita terus berupaya untuk mempublikasikan tempat ini lewat poster, brosur, leaflet dan terus bekerja sama dengan pihak – pihak pendidik seperti guru – guru sejarah untuk mengadakan kunjungan ke museum ini,” tutur Ahmad yang ditemui pada Sabtu, (11/5).

Selain itu upaya lain yang dilakukan adalah membentuk sebuah komunitas yang bernama Paguyuban Sahabat Museum dan Organisasi Pemuda dengan tujuan untuk memperkenalkan ke dunia luar bahwasannya museum ini sudah tercatat di Austria. “ Museum tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada orang yang mengayominya maka dibentuklah komunitas Paguyuban Sahabat Museum dan Organisasi Pemuda,” tambah Pria yang menyukai Seni teater itu.

Pengunjung museum ini pun dari berbagai kalangan dan terdapat segmentasinya mulai dari TK, SD, SMA/ SMK bahkan umum.  Desta, salah satu pengunjung museum ini mengungkapkan kegemberiannya saat melakukan kunjungan ke tempat ini.“ Seru banget ya disini, emang di tempat lain juga ada , cuma  yang saya lihat disini koleksinya lebih lengkap dan terawat,” tutur wanita yang disapa Iko ini.

Ahmad berharap Museum Prabu Geusan Ulun  ini menjadi salah satu objek tujuan wisata budaya di Sumedang. “Harapan untuk ke depannya agar museum ini menjadi tujun utama wisata serta dengan begini  kita dapat memperkenalkan Bhineka Tunggal Ika melalui sejarah dan museum,” tutup Ahmad.

(Luthfi A/ 10080011241)

 

Harga Emas Turun Pedagang Rugi

Toko Emas Buana di Pasar Kosambi.

Toko Emas Buana di Pasar Kosambi.

Teks dan Foto: Syifa Luthfiati (10080011249)

Bandung, Harga emas di pasaran menurun tajam. Turunnya harga emas ini dikarenakan nilai inflasi global yang terus menurun hingga 2,5 persen pertahunnya.

Hal ini mengindikasikan kerugian investor emas. Terutama para pemilik toko perhiasan. Buana, pemilik toko perhiasan disalah satu pasar Kosambi mengaku, tokonya mengalami kerugian hingga 10 persen semenjak turunnya harga emas saat ini. Berawal dengan modal 500.000 ribu per-gram emas, kini ia hanya mampu menjual dengan harga 400.000/gram.

“Jelas toko rugi dari turunnya harga emas akhir-akhir ini. sampai 10 persen kerugiannya. Bisa kebayang berapa puluhan juta saya rugi”, tutur Buana saat ditemui di tokonya.

Disisi lain, turunnya harga emas ini mengakibatkan meningkatnya pembelian perhiasan. Sejauh ini hampir 10 persen hingga 20 persen tingkat pembeli perhiasan di toko Buana. Emi salah satu pembeli emas di toko Buana mengaku langsung membeli emas untuk investasi jangka panjang saat mendengar harga emas telah turun.

“Iya, lumayanlah lagi turun banget. Buat simpenan aja”, tutup Emi, Jum’at (17/05).

Ketidakberdayaan Warga Menghadapi Banjir Cieunteung

Ibu dan anaknya melawan arus banjir

Tak kenal lelah, Ibu dan anak melawan arus banjir di Cieunteung (17/05)

 

Bandung – (17/05) Banjir hingga kini masih menyelimuti wilayah Cieunteung, kecamatan Bale endah, Kabupaten Bandung. Daerah tersebut seperti galon isi ulang, keberadaan air tidak bisa diprediksi. Pengerukkan sungai citarum, pembuatan benteng pembatas antara rumah warga dan sungai, tersedianya tempat pembakaran sampah mirip cerobong asap, tidak mampu menahan luapan air yang datang.

Beragam kerugian di alami warga, tak sempat untuk menyelamatkan harta benda. “Dulu warga sering gotong royong untuk membersihkan banjir tapi karena sekarang banjir sering datang, jadi udah ngga pernah,”ungkap Eneng Eulis Nurhayati (28) salah satu warga.

Dilemma mengungsi atau tidak pun sering terjadi pada warga sekitar. Ada rasa belonging di benak warga karena sudah sejak lama tinggal di cieunteung. Sebagian memilih masih bertahan dan sebagian warga mulai meninggalkan rumah karena beberapa telah di beli pemerintah.

“Kini tinggal sisa beberapa kepala keluarga yang semula kurang lebih 500 kepala keluarga,” tambah Eneng.

Bencana alam datang, beragam lapisan masyarakat berlomba-lomba untuk menunjukkan rasa empati mereka. Anak-anak SMK, ibu-ibu perkumpulan mesjid, mahasiswa, dan perusahaan memberikan bantuan. “Tapi terkadang bantuan tidak seperti yang di harapkan, ada aja gitu yang di ‘kurangi’ saat kami terima. Ngga tahu itu siapa yang ngurangi. Ya kita pasrah saja, tetap bersyukur,” keluh Eneng.

“Mensyukuri hal yang masih ada dan sabar di jadikan kunci utama. Semoga kita semua teh bisa melewati bencana ini dan segera di selesaikan permasalahan banjirnya, amin,” harap Maia (32).

(Teti Diana Ayu Novianti / 10080011172)

Trademark Market, dari lokal untuk internasional.

IMG_0761

Pintu masuk Trademark Market yang berlangsung di The Trans Luxury Hotel ballroom.

Bandung – Trademark Market, adalah sebuah acara yang dibuat oleh sekumpulan anak muda yang berasal dari kota Bandung yang berisikan kumpulan produk lokal dalam negeri yang  dimaksudkan untuk menaikan daya minat masyarakat kota Bandung terhadap produk-produk tersebut sehingga para pengusaha produk lokal dapat menaikan skala dari homemade menjadi skala industri.

Trademark hanya dikhusukan untuk produk-produk lokal yang dimaksudkan untuk menaikan pasaran produk tersebut, bukan hanya untuk masyarakat Bandung, tetapi semua lapisan daerah bahkan negara. Itu adalah target yang harus mereka capai dalam Trademark kali ini.

Selain itu, Trademark juga sangat membantu para pelaku industri lokal untuk memperkenalkan lebih lanjut tentang produk-produk yang mereka tawarkan kepada masyarakat, mulai dari baju, celana, jaket, aksesoris, interior ruangan, dan juga produk-produk makanan seperti makanan, minuman dan masih banyak lagi.

Trademark Market IV diselengarakan pada tanggal 2 – 5 Mei 2013 di Ballroom The Trans Luxury Hotel yang bertemakan “carnival” dengan mengusung konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ada 92 booth untuk kategori brand produk lokal dan 12 booth food & beverage yang ikut serta dalam Trademark IV ini. Selain itu, beberapa musisi lokal telah meramaikan suasana Trademark IV dengan menyuguhkan penampilan mereka.

Jadi, bagi kalian yang memiliki brand sendiri dan ingin memperkenalkan brand kalian kepada masyarakat luas, tidak ada salahnya untuk mendaftarkan brand kalian untuk mengikuti Trademark V yang rencananya akan diselengarakan tahun depan. tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?

Untuk keterangan selanjutnya silahkan kunjungi http://www.thetrademark.co.id http://www.trademarkevent.com (Ridwan)

IMG_0783 IMG_0786 IMG_0785 IMG_0784